Perspektif Hanung: Bumi Manusia Adalah Kisah Cinta Minke dan Annelies

Beberapa waktu yang lalu Hanung Bramantyo sudah resmi ditetapkan sebagai sutradara film yang diangkat dari sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer dengan judul yang sama pula, Bumi Manusia. Dan belum lama ini juga, dirinya telah mengumumkan lokasi syuting dan juga sejumlah pemain yang bakal terlibat dalam film ini.

Aktor muda yang baru saja terjun ke dunia seni peran setelah sukses memainkan peran sebagai Dilan, Iqbaal Ramadhan, terpilih untuk menerankan sosok Minke. Sementara itu, Sha Ine Febrianti memerankan Nyai Ontosoroh dan aktris pendatang baru Eva de Jongh berperan sebagai Annelies. Pemain lainnya yang juga ikut andil adalah Ayu Laksmi dan Donny Damara sebagai orang tuanya Minke.

Apa yang Bakal dilakukan oleh Hanung di Film Bumi Manusia

Sebelum memulai syutingnya yang direncanakan pada bulan Juli mendatang, Hanung yang diwawancarai oleh media menyempatkan diri berbincang dan memberikan opininya tentang film ini.

Baginya, ia ingin membawa Bumi Manusia sesuai dengan novelnya. Namun terkadang sering sekali ia menemukan banyak orang yang saat dimintai pendapat soal Bumi Manusia mereka menjawab, “Ini novel yang sangat berat, novel sastra yang sangat tinggi,” lalu ajan sulit memfilmkannya.

Untuk itu lah, ia mengajak semuanya untuk membaca Bumi Manusia dalam konteks sekarang. Bumi Manusia yang ditulis Pak Pram, begitu ia menyapa sang penulis novelnya, menurutnya melampaui zamannya.

Hal yang ditangkap Hanung dari Bumi Manusia

Menurut dirinya kalau dilihat seandainya yang menulis novel ini bukan Pak Pram dan judulnya bukanlah Bumi Manusia, intiĀ  cerita dari Annelies dan Minke itu hubungan cinta mereka. Ada anak muda yang sedang galau dengan dunia togel online mereka, dunia yang mana dengan perubahan yang amat cepat ini. Tiba-tiba saja ditantang oleh teman sekolahnyan untuk seperti, “Hayuk berani nggak ke rumah itu, ke daerah itu, ada cewek cantik, kita taruhan yuk bakalan suka sama siapa.”

Itu menurutnya adalah cinta jaman sekarang, Minke kemudian memutuskan untuk berani ke sana. Kemudian baru lah Minke dengan temannya bersaing. Seperti kisah sekarang, namun diletakkan masa tahun 19900-an.

Dari sana lalu ada pergulatan cinta yang menjadi semacam hubungan yang harmonis dan juga tragis. Namun menurutnya, dibandingkan dengan Ayat-Ayat Cinta, novel Bumi Manusia tidak seberat Ayat-Ayat Cinta ketika ia membacanya.

Namun Kenapa Ayat-Ayat Cinta?

Saat disinggung kenapa ia membandingkannya dengan Ayat-Ayat, ia menjawab karena di dalam Ayat-Ayat Cinta, ceritanya tentang suami istri, suami yang mau berpoligami, ada fitnah dan juga pembunuhan serta segala macam. Lebih berat Ayat-Ayat Cinta kalau dibandingkan dengan Bumi Manusia. Namun itu menurutnya pribadi.

Maka dari itu ia mengajak semuanya membaca novel Bumi Manusia kemudian konteksnya disesuaikan dengan jaman sekarang. Jadi buatnya, Bumi Manusia adalah sebuah novel yang hebatnya adalah novel yang mana sangat remaja, sangat ABG, namun memiliki nilai konteks zaman yang langgeng dan tak pernah lekang oleh waktu.

Jadi menurutnya, bila diproduksi 10 tahun yang akan datang, dengan pemain dan juga sutradara yang beda, ceritanya masih relevan juga apalagi sekarang banyak Minke-Minke yang mana muncul di era sekarang ini.

Menurutnya, mereka adalah anak-anak muda yang telah tidak lagi apolitis ahistoris, mereka para pembaca sejarah, mereka adalah orang yang peduli, dapat dengan mudahnya mengkritisi pemerintah misalnya #2019 ganti apa atau apa. Itu lah sebenarnya pergerakan anak muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *